Salut ! Cerita Polisi Tolak Uang SIM Dan Lebih Baik Jadi Pemulung - Welcome To Diary Mas Ifan Blog

Salut ! Cerita Polisi Tolak Uang SIM Dan Lebih Baik Jadi Pemulung

Bripka Seladi, salah satu anggota polisi yang bertugas di Polres Malang Kota, Sudah sepantasnya menjadi polisi teladan. Demia mendapatkan ua...
Bripka Seladi, salah satu anggota polisi yang bertugas di Polres Malang Kota, Sudah sepantasnya menjadi polisi teladan. Demia mendapatkan uang tambahan ia bekerja menjadi pengumpul sampah usah bertugas dan lebih baik menolak pemberian uang dari para warga yang mengurus Surat Izin Mengemudi (SIM).

Selain bisa mendapatkan uang yang halal dari kedua pekerjaannya itu, pria yang kini sudah berusia 57 tahun ini juga merupakan polisi yang giat menciptakan lingkungan yang bersih.

Bripka Seladi mempunyai sebuah gedung sampah yang letaknya di Jalan Dr Wahidin, Kecamatan Klojen, Kota Malang. Uniknya, Gedung itu tidak begitu jauh, masih ada di jalan yang sama dengan tempat kantor dirinya bertugas.

Bripka Seladi bertugas pada bagian pengurusan SIM Kantor Satuan Penyelenggara Administrasi (SATPAS) Polres Malang Kota yang mana letaknya ada di Jalan Dr Wahidin.

Bripka Seladi ( Foto @Facebook )

Jarak Kantor dengan gudang Bripka Seladi sekitar 100 Meter, Meski gudang sampah akan tetapi jika dilihat dari luar tidak sama sekali ada berserakan terlihat sampah - sampah, lingkungan halaman depan gedung benar - benar bersih.

Akan tetapi di dalamnya, bau khas sampah sangat menyengat. Bangunan itu minim sekali penerangan. Tumpukan sampah yang terbungkus dengan ratusan kantong sampah plastik berwarna hitam terlihat menggunung.

Sebuah lorong sempit disediakan untuk menuju salah satu ruangan pada bagian belakang pada bangunan gedung tersebut. Ruangan gedung sendiri memiliki penerangan hanya karena atap gedungnya yang berlubang. Di ruang itulah, Bripka Seladi bekerja mencari uang tambahan kala ia tidak bertugas di kesatuannya.

Bripka Seladi begitu giat dan telaten memilah sampah - sampah. "Tukang rongsokan," ujar Bripka Seladi sambil tertawa

Kala ditanya - tanya tidak sama sekali terdengar nada minder pada suara Bripka Seladi. Cara bisanya begitu humoris dan mantap. Ia bahkan juga menyelipkan humor kala menyebutkan namanya, dimana Bripka Seladi menyebut namanya ( Seladi = sela - selane dadi )," Ucapnya sambil tertawa terpingkal - pingkal.

Itulah pekerjaan sampingan Bapak Seladi, Bapak Seladi ini menegaskan bahwa pekerjaan sampingannya itu tidak hingga membuat ia menelantarkan pekerjaan utamanya. Ia justru lebih memilih sampah untuk kegiatan di luar jam dinas. Sudah delapan tahun Bripka Seladi menjalani pekerjaan dobel ini. Di empat tahun yang pertama, ia hanya sendirian memulung sampah yang hendak ia pilih di gedung.

Seorang bapak yang sudah mempunyai tiga anak ini berkeliling di kawasan dengan menggunakan sepeda onthel. Sepeda onthel tersebut merupakan kendaraan dirinya sejak menjadi polisi pada tahun 1977.

Dari pukul 05.00 WIB, Bapak Seladi keluar pada rumanya di Jalan Gadang Gang 6, Kelurahan Gadang, Kecamatan Sukun, Ke Mapolres Malang Kota. Ia mengikuti Apel, dan kemudian melanjutkan tugas mengatur lalu lintas. Usai itu ia berdinas di Kantor Satpas, untuk mengurus ujian pencari SIM dan juga Administrasi hingga usai jam dinas. Usai jam dinas selesai ia pun berganti baju dan kemudian segera tancap sepeda untuk mencari sampah.

"Sudah sekitar 4 tahun saya jalani. Kemudian, teman saya meminjamkan rumah ini, rumah kosong yang saya jadikan gudang. Disini juga saya melakukan pemilahan," tutur Bripka Seladi.

Proses pemilahan sendiri melibatkan empat orang, yaitu Bripka Seladi dan juga dibandu Rizal Dimas dan juga Dua anaknya yang kerap ia sebut juga merupakan temannya.

Usai namanya cukup dikenal Bripka Seladi pun tidak perlu lagi memulung sampah. Ia bahkan sempat mempunyai tempat pengumpulan sampah di sekitar Stasiun Kota Baru Malang.

LEBIH BAIK BISNIS SAMPAH !

Setiap hari ada 1 mobil sampah yang siap mengangkut sampah - sampah yang sudah di pilar oleh Bripka Seladi dan kawan - kawan.

"Itu mobil juga hasil dari sampah." Ucap Bripka Seladi

Meski penghasilannya dari bisnis sampah itu tidak sebesar gajinya sebagai seorang polisi akan tetapi Bripka Seladi tetap bersemangat dan tidak bosan mengurusi sampah sebagai uang tambahannya.

Setiap hari Bripka Seladi mengaku untung hanya Rp. 25.000 s/d Rp. 50.000 saja dari kirim sampah, dan itu pun jika sampah sudah terjual.

Yang Penting Halal merupakan hal yang membuat saya terus ingin menggeluti bisnis sampah ini selain membantu kebersihan lingkungan juga mendapatkan rejeki yang halal.

Maka dari itu Bripka Seladi tidak pernah minder dengan pekerjaan sampingannya itu. Ia bahkan juga tidak terlihat jijik dikala memilah aneka sampah. Bahkan Bripka Seladi mengaku tidak pernah mendepati penyakit yang serius meskipun setiap hari pekerjaan mencium bau sampah yang begitu menyengat.

MENOLAK SUAP 

Bripka Seladi menegaskan jika ia tidak sama sekali tergiur meski dirinya sekarang ini berdinas di lahan yang selama ini dikenal sebagai lahan "basah" pada Institusi Kepolisian.

Bripka Seladi mengaku tidak pernah dan tak mau menerima pemberian orang yang mempunyai tujuan tertentu pada pengurusan SIM. Meski ada yang memberi dirinya rumah sekalipun, ucap Seladi, ia dengan senang hati meminta agar orang tersebut mengembalikan pemberiaan tersebut.

Prinsip hidup Bripka Seladi yang seperti itulah yang diajarkan kepada anak - anaknya. Rizal Dimas (21), Etos Kerja Keras, Halal dna juga tidak memiliki rasa minder. Setiap hari sang anak membantu memilah sampah. Lulusan D-2 Informatika Universitas Negeri Malang (UM) itu juga terlihat seperti bapaknya tidak sama sekali jijik kala memilah sampah.

"Saya tak merasa minder mempunyai ayah seorang polisi, yang juga bekerja sebagai tukang rongsokan. Ini merupakan pekerjaan yang halal. Saya justru bangga lantaran ayah sudah mengajari saya mengenai kerja jujur," ucapnya. Kala masih ada anggapan miring terhadap kepolisian, Rizal justru berani menyodorkan jika ayahnya merupakan polisi yang patut di contoh.

Maka dari itu, Rizal Dimas masih memiliki keinginan yang kuat untuk menjadi seorang polisi. Tahun ini merupakan tahun ketiganya mencoba peruntungan ke kepolisian. Ia sudah dua kali gagal saat mendaftarkan diri menjadi polisi. Rizal Dimas mengaku bahwa ia tidak menggunakan bantuan lobi dari sang ayah agar lolos. tahun ini, ia kembali lagi mendaftarkan diri.

Nah, itu dia sedikit kisah hidup Bripka Seladi, semoga bisa menginspirasi dan juga memotivasi kita semuanya bahwa rejeki halal merupakan segala - galanya yang terbaik jika dibandingkan dengan penghasilan yang besar sekalipun.
KLIK DISINI UNTUK KOMENTAR Disqus