Wisata Edukasi di Tidar Campur Kota Magelang - Welcome To Mas Ifan Blog

Wisata Edukasi di Tidar Campur Kota Magelang

Kota Magelang, merupakan kota administratif yang terletak di jalur perlintasan dua kota besar di Jawa Tengah bahkan di Indonesia. Kota Magel...
Kota Magelang, merupakan kota administratif yang terletak di jalur perlintasan dua kota besar di Jawa Tengah bahkan di Indonesia. Kota Magelang juga merupakan kota yang berdekatan dengan sebuah propinsi di Indonesia. Dua kota Besar dan sebuah propinsi tersebut adalah Kota dan Kabupaten Semarang dengan Propinsi Yogyakarta.

Dimana, dengan posisi yang berdekatan dengan Daerah Istmewa Yogyakarta memberikan dampak yang sangat siginifikan terhadap jumlah pengunjung dan wisatawan yang datang.

Warga Kampung Tidar Campur Memberikan Sambutan Kepada Para Tamu ( Foto @Diary Mas Ifan )

Di Kabupaten Magelang sudah barang tentu, terdapat destinasi-destinasi yang dapat menarik wisatawan domestik maupun manca negara.

Terdapat Candi Borobudur yang sangat terkenal, Candi Mendut dan sederetan nama-nama candi yang terkenal. Ditambah lagi dengan destinasi wisata alam seperti Punthuk setumbu dan sejenisnya. Semua ini karena wilayah Kabupaten Magelang ada yang terdiri dari pegunungan dan juga dataran. Dengan adanya Bukit Menoreh, sangat menunjang sekali wisata alam yang ada di Kabupaten Magelang.

Kota Magelang

Kondisi yang demikian sangatlah berbalik 1800 dengan Kota Magelang. Wilayah Kota Magelang yang luasnya hanya 18,12 km². Dengan potensi sumber daya alam yang terbatas dan tidak seperti Kabupaten Magelang tentunya membuat Kota Magelang harus cerdas dalam mensikapinya.

Kota Magelang yang berpredikat sebagai kota jasa terus berbenah diri dalam meningkatkan pendapatannya dari sektor pariwisata.

Banyak hotel-hotel berbintang bertebaran di Kota Magelang. Ini menunjukkan bahwa geliat pariwisata di Kota Magelang tidak dapat disepelekan.

Ada beberapa destinasi wisata di Kota Magelang yang dapat diandalkan antara lain : Kyai Langgeng, Bukit Tidar yang merupakan wisata religi. Museum-museum seperti Museum Diponegoro, Museum BPK, Museum Taruna dan sebagainya.

Wisata Edukasi


Apa yang dimaksud dengan wisata edukasi? Wisata edukasi adalah sebuah destinasi wisata yang tujuan dari kunjungan ke tempat ini cenderung untuk memberikan pengetahuan kepada para pengunjungnya. Disini para pengunjung akan mendapatkan pengetahuan yang mungkin tidak mereka dapatkan di tempat lain. Para pengunjung akan mendapatkan pengetahuan dan wawasan di tempat ini.

Meskipun disebut sebagai wisata edukasi, namun untuk disebut sebagai desa wisata lokasi tersebut tetap harus memenuhi beberapa persyaratan yang salah satunya adalah memiiki kesenian daerah yang ada di daerah tersebut.


Tidar Campur, adalah sebuah kampung yang berada di ujung selatan Kota Magelang. Tidar Campur terletak di wilayah Kelurahan Tidar Selatan Kecamatan Magelang Selatan Kota Magelang.

Ya Tidar Campur, merupakan salah satu embrio desa wisata di Kota Magelang. Wisata yang ditonjolkan di Kampung Tidar Campur adalah wisata edukasi walaupun ada kegiatan lain yang menjadi agenda tetap di kampung ini.

Tidar Campur


Bahwa nama Tidar tidak dapat dipisahkan dengan Prasasti Mantiasih yang konon pada saat itu masyarakat di Mantiasih pada jaman Ratu Dyah Balitung mengadakan pemujaan sesaji/persembahan di suatu dataran tinggi ( tanah yang tinggi ) dengan berbagai macam-macam makanan dan selanjutnya disitu dijadikan tempat untuk menyajikan bermacam-macam makanan, untuk membawa keatas makanan atau dedaharan menggunakan tempat dari peti kayu, sehingga disebut PETI DAHAR sehingga Peti Dahar tersebut seiring dengan berjalannya waktu yang sangat lama kemudian disebut T I D A R.

Setelah perlawanan Pangeran Diponegoro dapat dikalahkan oleh Belanda ( Perang Diponegoro Tahun 1825-1830 ) banyaknya pengikut setia yang tetap tinggal di sekitar Magelang, salah satunya adalah WUNDAR WANGI. Beliau ikut berperang bersama Pangeran Diponegoro disekitar Wilayah Magelang. Setelah Pangeran Diponegoro ditangkap dan diasingkan oleh Belanda, Kyai Wundar Wangi tetap menetap di Magelang dan Kampung tempat Kyai Wundar Wangi beserta pengikutnya dinamai TIDAR dan sampai saat ini menjadi identitas Kelurahan Tidar.

TIDAR CAMPUR Merupakan daerah yang penduduknya pada saat itu terdiri dari berbagai daerah yang bermukim dan bekerja sebagai buruh Tebu di Sawe. Sehingga masyarakat pada saat itu memberi tetenger Tidar Campur (identitas dengan terjadinya intensitas masyarakat di lingkungan tersebut yang datang dari berbagai wilayah.

Wisata Edukasi Di Tidar Campur

1. Bank Sampah Soya Mekar
Pengelolaan sampah di Kota Magelang bisa menjadi contoh bagi kota-kota lain. Dari persoalan sampah tersebut, Wali Kota Magelang Sigit Widyonindito membuat inovasi Bank Sampah. Sampah-sampah itu kini bernilai ekonomis. Barang-barang bekas yang bisa dipergunakan disulap menjadi beberapa suovernir yang menarik.

Ada gantungan kunci, bros, tutup makanan, kap lampu dan sebagainya. Selain itu, kegiatan di Bank Sampah ini antara lain memilah dan memiih sampah. Pemilihan dilakukan di rumah masing-masing penduduk. Barang yang bisa dijual kembali ditimbang dan hasil penjualannya dimasukkan ke dalam bank sampah berdasarkan nama masing-masig rumah yang menyetorkan ke bank sampah.

Dari sini maka setiap rumah akan memiliki penghasilan tambahan dari hasil penjualan sampah yang dapat dijual kembali. Rumah Sampah merupakan pusat pengelolaan dan sebagai sarana edukasi terkait sampah kepada masyarakat Tidar Campur khususnya dan Masyarakat Tidar Selatan umumnya.



2. Kampung Organik Soya Mekar
Kampung organik merupakan kampung yang dalam kehidupan sehari-hari setiap warga melestarikan alam lingkungan dengan baik dan benar baik itu lingkungan biotik, abiotik, sanitasi, ekonomi, sosial dan budaya masyarakat. Selain itu warga juga membudidayakan sistem pertanian organik dalam skala rumah tangga dan skala kawasan. Masyarakatnya sudah mengelola sisem penampungan air hingga pemilahan dan pengelolaan sampai meliputi reduce, reuse dan recycle.


3. Sentra Tahu “ KOPTI “
Di Kota Magelang keberadaan industri tahu dapat meningkatkan perekonomian masyarakat Magelang. Hal tersebut dapat ditunjukkan adanya industri tahu yang cukup banyak dan bersaing satu sama lain di Kota Magelang. Sentral industri tahu yang merupakan daerah lingkup penghasil tahu banyak terdapat Kota Magelang.

Di samping tahu sebagai hasil produk yang utama, industri tahu juga menghasilkan limbah cair tahu yang mengandung protein dan bahan organik yang jika dibuang langsung ke lingkungan sehingga dapat menjadi sumber pencemaran lingkungan. Limbah cair dari industri tahu juga dapat untuk dijadikan gas bio melalui proses an aerobik yang dapat dimanfaatkan untuk memasak.Di samping itu juga menghasilkan limbah padat yang berupa ampas tahu yang dimanfaatkan untuk pakan ternak dan pembuatan tempe gembus.

4. Biogas Limbah Tahu
Proses pengolahan limbah menjadi biogas ini sangat sederhana, yaitu limbah cair dari pabrik tahu dialirkan ke bak kontrol. Bak kontrol ini berfungsi sebagai penyaring ampas dari proses pengepresan limbah tahu. Setelah dari bak kontrol masuk ke kolam penampungan diserter. Karena terus menerus dialiri limbah maka bak penampungan limbah ini menjadi meluber. Luberan ini dimasukkan ke bak peluber. Biogas lalu dialikan ke rumah dengan menggunakan pipa paralon yang disambungkan dengan tungku perapian.

Ampas tahu dan sampah rumah tangga dapat menghasilkan biogas dengan kuantitas dan kualitas lebih baik daripada kotoran ternak. Selain lebih mudah didapat, ampas tahu dan sampah rumah tangga lebih dapat mendorong masyarakat untuk menggunakan biogas.

5. Keripik Tahu
Selain getuk, dikenal pula kerupuk tahu sebagai oleh-oleh khas Magelang. Kerupuk yang terbuat dari tahu tersebut tidak kalah laris dengan getuk baik di hari biasa maupun saat ramai seperti libur Lebaran.

Sudah 2-3tahun ini Kota Magelang ada model kerupuk baru. Yaitu kerupuk dari kulit tahu kulit yg berwarna coklat. Tahu kulitnya dipilih yg bentuknya bulat dan dipotong dua persis di tengahnya jadi kelihatan bagus setelah dioven kemudian digoreng


6. TPS3R
Tempat pengolahan sampah dengan prinsip 3R (reduce, reuse, recycle) yang selanjutnya disebut TPS 3R adalah tempat pemrosesan dengan kegiatan pemilahan, pengurangan (reduce), pendaurulangan (recycle) dan pemanfaatan kembali (reuse) sampah yang dihasilkan suatu kawasan pemukiman, kawasan niaga (ruko, mall), fasilitas sosial (rumah sakit, tempat ibadah), kawasan pendidikan (sekolah) dan sejenisnya.

Dengan reaktor gasifikasi atau disebut Gasifier- alat pembuat gas dengan cara termokimia- secara terpadu dengan digester biogas dan komposter, akan menuntaskan pengelolaan sampah perkotaan. Semua jenis dapat diselesaikan di dekat dengan sumber timbulannya (TPS), tanpa menyisakan residu secara berarti untuk dibuang ke tempat pembuangan akhir.

Wisata Budaya Di Tidar Campur


Di samping wisata edukasi yang bisa digunakan untuk menambah wawasan, para pengunjung juga bisa menikmati indah dan uniknya wisata budaya di Tidar Campur.

Wisata Budaya yang ada di Tidar Campur ini hanya bisa dinikmati setiap tahun pada bulan Ruwah (Sya’ban).

Pada bulan ini, seluruh warga Tidar Campur dan Tidar Sawe mempunyai sebuah hajat besar. Hajat ini bisa menjadi salah satu daya tarik tersendiri bagi para wisatawan domestik maupun manca.

1. Nyadran
Nyadran adalah serangkaian upacara yang dilakukan oleh masyarakat Jawa, terutama Jawa Tengah. Nyadran berasal dari bahasa Sanskerta, sraddha yang artinya keyakinan. Nyadran adalah tradisi pembersihan makam oleh masyarakat Jawa, umumnya di pedesaan. Dalam bahasa Jawa, Nyadran berasal dari kata sadran yang artiya ruwah syakban. Nyadran adalah suatu rangkaian budaya yang berupa pembersihan makam leluhur, tabur bunga, dan puncaknya berupa kenduri selamatan di makam leluhur.

Namun di Tidar Campur pembersihan makam itu dilaksanakan sebelum acara nyadran. Nyadran di Tidar Campur dilakukan dengan doa bersama untuk para leluhur, dilakukan di masjid. Para jamaah berbondong-bondong datang ke masjid serta membawa makanan seikhlasnya. Setelah doa bersama dilakukan, maka acara nyadran ditutup dengan makan bersama-sama oleh seluruh warga yang dikenal dengan nama kembul bujana.


2. Merti Desa
Merti desa, sering disebut juga bersih desa, hakikatnya adalah simbol rasa syukur masyarakat kepada Yang Maha Kuasa atas limpahan karunia yang diberikan-Nya. Karunia tersebut bisa berujud apa saja, seperti kelimpahan rezeki, keselamatan, serta ketentraman dan keselarasan hidup. Bahkan orang Jawa percaya, ketika sedang dilanda duka dan tertimpa musibah pun, masih banyak hal yang pantas disyukuri. Masih ada hikmah dan pelajaran positif yang dapat dipetik dari terjadinya sebuah petaka. Di samping itu, rasa syukur juga bisa menjadi pelipur sekaligus sugesti yang menghadirkan ketenangan jiwa. Merti desa biasanya dilakukan pada bulan bulan tertentu, dalamm kalender Jawa.

Merti Desa di Tidar Campur diikuti oleh 2 kampung, yaitu Tidar Campur dan Tidar Sawe. Merti Desa di Tidar Campur dikemas dengan sangat menarik sehingga menarik untuk dinikmati.

Merti desa dilakukan dengan serangkaian upacara adat Jawa dimana para peserta upacara dan tamu undangan wajib memakai busana adat Jawa. Upacara dilakukan di lapangan terbuka sehingga siapa saja bisa melihat jalannya upacara adat tersebut.

Pasukan-pasukan peserta upacara disebut dengan bergada. Masing-masing bergada berbaris sesuai dengan ciri khasnya masing-masing.

Hal menarik lainnya adalah, adanya Gunungan Tahu dan Gunungan sayuran yang merupakan ciri khas dari Desa Wisata Tidar Campur yang merupakan sentra pengusaha tahu. Sedangkan gunungan palawija berisi sayur-sayuran melambangkan tanda syukur kepada Sang Pencipta atas semua limpahan yang diberikan selama ini.

Di samping dua gunungan besar tersebut, masing-masing bergada juga mempersiapkan beberapa gunungan kecil.


3. Grebeg Tahu
Grebeg tahu merupakan rangkaian dari acara upacara adat Jawa tersebut. Setelah upacara adat Jawa selesai, maka gunungan tahu dan gunungan palawija beserta gunungan-gunungan kecil diarak keliling kampung dengan diikuti oleh masing-masing bergada.

Sepanjang perjalanan di 2 kampung tersebut, banyak warga yang berdiri dan menyaksikan bagaimana arak-arakan gunungan tersebut.

Setelah selesai diarak keliling kampung, maka gunungan tahu, gunungan palawija dan beberapa gunungan masing-masing bergada dibawa ketengah lapangan. Dan setelah pembesar upacara memberi tanda maka gunungan-gunungan yang ada ditengah lapangan diperebutkan oleh para penonton maupun para bergada.

Dalam acara grebeg ini, sebelum upacara adat dilakukan dan setelah selesai grebeg, penonton masih disuguhi dengan atraksi budaya Topeng Ireng dan Reog Ponorogo. Turis manca negara merasa senang sekali bisa ikut dalam kegiatan dan bahkan mereka bangga bisa memakai dan berfoto bersama dengan menggunakan “Kuluk” topi yang dipakai para penari Dayakan atau Topeng Ireng.


4. Pagelaran Wayang Kulit.
Pagelaran wayang kulit semalam suntuk merupakan puncak acara merti desa lan sadranan yang merupakan wisata budaya di Tidar Campur.

Lakon yang dimainkan biasanya menceritakan tentang kondisi atau perjalanan kampung Tidar Campur.


Dalang dalam pagelaran wayang kulit di Tidar Campur adalah KI Triyono Lebda Carita. Dalam dua kali penampilannya, Ki Triyono Lebda Carita mengambil judul Semar Mbangun Kayangan dan tahun 2017 ini mengambil judul Wahyu Makutharama.

Ada makna tersirat yang bisa diambil hikmahnya dalam pagelaran wayang kulit tersebut. Semuanya ditujukan untuk kemakmuran, kesejahteraan dan keselamatan warga Tidar Campur dan Tidar Sawe.
KLIK DISINI UNTUK KOMENTAR Disqus