Al-Kindi Bapak Filsafat Islam - Welcome To Diary Mas Ifan Blog

Al-Kindi Bapak Filsafat Islam

Dibandingkan perannya sebagai penemu minyak wangi pertama, nama Al-Kindi lebih dikenal dengan predikat Bapak Filsafat Islam . Minyak wangi ...
Dibandingkan perannya sebagai penemu minyak wangi pertama, nama Al-Kindi lebih dikenal dengan predikat Bapak Filsafat Islam. Minyak wangi hanyalah satu dari sekian banyak jasanya kepada ilmu pengetahuan di berbagai bidang, termasuk Kimia, Fisika, geometri, filsafat, astrologi, astronomi, aritmetika, etika, medis, psikologi, meteorologi, politik, arsitektur, musik sampai religi.

Predikat Bapak Filsafat Islam disematkan kepada Al-Kindi karena ia adalah filsuf Arab pertama yang mengenalkan karya-karya legendaris dari para pemikir Yunani Kuno kepada dunia Islam. Al-Kindi juga menjadi tokoh utama yang menggalakkan penerjemahan karya-karya monumental itu ke dalam bahasa Arab.

Ilustrasi Al-Kindi Si Jenius Di Segala Bidang Keilmuwan

Al-Kindi berasal dari keluarga bangsawan Irak, tepatnya dari suku bangsa Kindah yang berasal dari Yaman. Ia dilahirkan pada tahun 801 Masehi di Kufah (salah satu kota di wilayah Irak pada masa lampau) dengan nama lengkap Abu Yusuf Yakub ibn Ishaq Al-Kindi.

Kaum ilmuwan Barat memanggilnya dengan nama Al-Kindus. Ayah Al-Kindi adalah bangsawan yang menjabat sebagai gubernur di Kufah di masa kekuasaan Dinasti Abbasiyah. Al-Kindi hidup di sepanjang era pemerintahan dinasti ini sejak masa kepemimpinan Khalifah Al-Amin (809-812 M), Al-Ma'mun (813-833 M), Al-Mu'tashim (833-842 M), Al-Watsiq (842-847 M), hingga Al-Mutawakkil (847-860 M).

Kekaguman Al-Kindi terhadap karya-karya Yunani Kuno memang sangat besar. Ia terutama sangat mengagumi pemikiran Aristoteles yang telah banyak memengaruhi pemikiran Al-Kindi dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan.

Ia memang seorang ilmuwan serba bisa dan multitalenta di mana pemikirannya melintas batas berbagai cabang keilmuwan. Al-Kindi telah mempelajari, melakukan riset, dan menghasilkan karya dari seluruh bidang ilmu pengetahuan yang berkembang di masa hidupnya.

Dari seabrek jenis ilmu yang telah dipelajarinya, Al-Kindi menempatkan Matematika di posisi khusus. Baginya, Matematika adalah pintu gerbang bagi mereka yang ingin memperdalam ilmu filsafat, bapak moyangnya ilmu pengetahuan.

Al-Kindi menganggap Matematika teramat penting sehingga tidak akan mungkin seseorang dapat mencapai kemajuan dalam ilmu filsafat sebelum menguasai ilmu Matematika terlebih dulu. Ilmu Matematika yang dipelajari oleh Al-Kindi meliputi ilmu bilangan, harmoni, geometri, dan astronomi. Secara khusus, Al-Kindi mengedepankan ilmu bilangan karena menurutnya, apabila bilangan tidak ada maka apa pun juga tidak akan ada.

Di ranah ilmu psikologi dan etika, Al-Kindi merumuskan daya jiwa manusia menjadi tiga hal pokok, yaitu daya bernafsu (appetitive), daya pemarah (irascible), dan daya berpikir (cognitive atau rational). Di sini, Al-Kindi terinspirasi pemikiran Plato dengan menyatakan bahwa jika akal budi dapat berkembang dengan baik, maka daya bernafsu dan daya pemarah akan dapat dikendalikan.

Orang yang hidupnya dikendalikan oleh dorongan-dorongan nafsu birahi dan amarah, kata Al-Kindi, mereka seperti anjing dan babi. Al-Kindi melanjutkan, sedangkan bagi yang menempatkan akal budi sebagai hal yang paling utama, mereka bisa disamakan seperti raja.

Sebagai seorang pemikir, Al-Kindi tentunya juga mempunyai pemikiran mendalam mengenai ilmu filsafat. Al-Kindi berpendapat bahwa fungsi filsafat sesungguhnya bukan untuk menggugat kebenaran wahyu, atau untuk menuntut keunggulan dan persamaan dengan wahyu.

Filsafat bagi Al-Kindi harus ikhlas, tidak boleh mengajukan tuntutan sebagai jalan tertinggi menuju kebenaran. Bahkan, Al-Kindi menegaskan bahwa filsafat harus mau merendahkan dirinya sebagai penunjang bagi wahyu.

Sedangkan pengertian filsafat menurut Al-Kindi adalah pengetahuan tentang segala sesuatu yang bisa dijangkau oleh pengetahuan manusia. Oleh sebab itu, Al-Kindi selalu menegaskan bahwa filsafat memiliki keterbatasan.

Seorang filsuf, Al-Kindi mencontohkan dirinya tidak akan dapat mencapai hal-hal yang di luar kemampuannya, misalnya pemikiran tentang surga, neraka, akhirat, mukjizat, serta hal-hal yang tak terjangkau lainnya.

Berbeda dengan para pemikir Eropa yang lebih mengedepankan logika, Al-Kindi justru menempatkan Tuhan sebagai pusat dari segala sesuatu, bahwa penciptaan dan kehancuran dunia ini semata-mata ditentukan oleh ketentuan Tuhan.

Al-Kindi telah menghasilkan ratusan karya di sepanjang hidupnya. Ia mempunyai perpustakaan pribadi yang sangat luas, bernama Al-Kindiyah, sebagai tempat untuk menyimpan koleksi kitab, buku, manuskrip, naskah-naskah lama, dan bermacam-macam literatur lainnya dari berbagai cabang ilmu pengetahuan.

Sayang, karya-karya Al-Kindi sempat hilang dari pantauan, hanya segelintir karya terjemahannya saja yang berhasil dilacak dan ditemukan. Pada tahun 873 M, Al-Kindi meninggal dunia, namun peran sentralnya sebagai ilmuwan Islam yang paling membanggakan tidak akan lapuk digerus zaman.
KLIK DISINI UNTUK KOMENTAR Disqus