Si Jenius Penemu Globel Pertama - Welcome To Diary Mas Ifan Blog

Si Jenius Penemu Globel Pertama

Al-Idrisi dilahirkan di sebuah kota bernama Ceuta yang terletak di kawasan Afrika bagian utara pada tahun 1099 Masehi. Al-Idris disebut-sebu...
Al-Idrisi dilahirkan di sebuah kota bernama Ceuta yang terletak di kawasan Afrika bagian utara pada tahun 1099 Masehi. Al-Idris disebut-sebut masih terikat gadis darah dengan para penguasa Idrisiyyah di Maroko yang merupakan keturunan Hasan bin Ali, putra Ali bin Abi Thalib, dan cucu Nabi Muhammad. Sejak usia muda, Al-Idrisi sudah senang berpetualang ke negeri-negeri lain untuk memperluas pengetahuannya.

Abu Abdallah Muhammad Al-Idrisi

Dari Afrika Utara, Al-Idrisi berkelana menyusuri wilayah pesisir, termasuk Aljazair, hingga sampai di Spanyol yang dikenal dengan nama Andalusia pada kala itu. Setelah menghabiskan waktu di Cordoba, Andalusia, selama beberapa waktu untuk belajar, Al-Idrisi kemudian meneruskan perjalanannya ke tempat yang sekarang menjadi wilayah negara Portugal (masih di kawasan Andalusia), lalu dilanjutkan wilayah Prancis, Hungaria, bahkan hingga menyeberang ke Inggris.

Selama melakukan perjalanan panjang inilah Al-Idrisi memperoleh banyak sekali pengetahuan mengenai tempat-tempat di dunia. Selain mempelajari berbagi macam literatur, Al-Idrisi juga mendapat banyak informasi dan data-data berharga dari hasil interaksinya dengan kaum pedagang Muslim yang kerap ditemuinya, termasuk pengetahuan tentang Afrika, Samudera Hindia, dan kawasan Timur Jauh yang kini dikenal sebagai kawasan Asia Tenggara di mana Indonesia termasuk di dalamnya.

Tidak hanya dari para pedagang Muslim saja, dari para pelaut Normandia Al-Idrisi juga menerima banyak data tentang pemetaan dunia. Dari sinilah Al-Idrisi mulai menyusun semua yang ia peroleh untuk mendapatkan gambaran tentang dunia.

Semua yang telah diperoleh Al-Idrisi selama masa petualangan itu kemudian dihimpun menjadi sebuah buku berjudul Nuzhat al-Mushtaq fi Ikhtiraq al-Afat atau "Tempat Orang yang Rindu Menebus Cakrawala." Buku referensi ini sangat fenomenal pada waktu itu dan menjadi kitab acuan bagi para ilmuwan Eropa sehingga kemudian buku karya Al-Idrisi ini dialihbahasakan ke dalam bahasa Latin, bahasa intelektual Eropa kala itu, dengan judul Geographia Nubiensis.

Nama Al-Idrisi pun menjadi buah bibir dan menarik perhatian banyak pihak, termasuk Raja Roger II dari Sisilia. Sang Raja bahkan berkenan mengundang Al-Idrisi untuk datang ke istananya dan meminta agar Al-Idrisi membuat peta dunia terbaru berdasarkan pengalamannya selama ini.

Permintaan Raja Roger II itu disanggupi oleh Al-Idrisi dan syarat, di dalam peta yang akan dibuatnya itu, Al-Idrisi ingin memasukkan data yang menyebutkan bahwa Sisilia pernah menjadi bagian dari wilayah kekuasan kaum Muslimin selama 200 tahun sebelum Raja Roger II berkuasa. Oleh karena data sejarah itu benar adanya, maka sang Raja pun mengiyakan.


Akhirnya, pada tahun 1154 M, Al-Idrisi berhasil menyelesaikan tugasnya dengan membuat peta dunia terbaru sesuai permintaan Raja Roger II. Hal yang unik dan baru dalam peta dunia rancangan Al-Idrisi itu adalah wujudnya yang oleh Al-IDrisi dibuat dalam bentuk globe atau bola dunia.

Globe pertama di dunia buatan Al-Idrisi dibuat dari bahan perak seberat 40 kilogram. Tabula Rogeriana dengan sangat rinci memuat pegunungan, sungai-sungai, kota-kota besar, dataran subur dan gersang, lengkap dengan informasi tinggi di beberapa titik Globe karya Al-Idrisi diakui sebagai peta dunia yang paling teliti dan detail pada waktu itu dan menjadi rujukan penting hingga tiga abad setelahnya.

Sebagai wujud penghormatan kepada Raja Roger II, Al-Idrisi juga membuat peta dunia dalam bentuk kitab yang diberi nama Tabula Rogeriana, sering disebut juga sebagai Kitab Rudjdjar, Kitab Al-Rujari, Kitab Roger, atau The Book of Roger dalam istilah universalnya. Kitab itu juga terbilang lengkap, bahkan hingga menjelaskan posisi sebuah pulau es terpencil yang dimungkinkan adalah wilayah Islandia. Al-Idrisi juga menyebut kawasan Atlantik di peta tersebut.

Keberhasilannya membuat globe dan kitab tentang peta dunia itu membuat Al-Idrisi semakin produktif. Banyak sekali buku ensiklopedia karya Al-Idrisi yang membahas tentang tempat-tempat di dunia.

Karya-karya agung Al-Idrisi itu dianggap sangat berguna dan berpengaruh bagi generasi penerusnya. Bahkan, setelah Al-Idrisi wafat pada tahun 1166 M, karya-karyanya banyak yang diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan menjadi bacaan populer di Eropa hingga ratusan tahun lamanya.
KLIK DISINI UNTUK KOMENTAR Disqus