Anaximander Perintis Pemikiran Alam Semesta - Welcome To Diary Mas Ifan Blog

Anaximander Perintis Pemikiran Alam Semesta

Langit yang selama ini kita lihat sejatinya hanya setengahnya saja, karena langit beserta semua isinya itu senantiasa beredar mengelilingi b...
Langit yang selama ini kita lihat sejatinya hanya setengahnya saja, karena langit beserta semua isinya itu senantiasa beredar mengelilingi bumi. Teori inilah yang diyakini oleh Anaximander, atau yang dikenal juga dengan nama Anaximandros dalam versi bahasa Inggrisnya. Anaximander, salah seorang ilmuwan Yunani terkemuka kelahiran tahun 610 Sebelum Masehi, dikenal sebagai Bapak Ilmu Astronomi. Ia adalah salah satu ilmuwan pada masanya yang turut memikirkan dan merumuskan tentang tata surya. Salah satu prinsip Anaximander yang paling terkenal adalah bahwa ia meyakini bumi berbentuk silinder dan angkasa raya berputar setiap hari mengelilinginya.

Anaximander hidup sezaman dengan Thales (624-546 SM). Bahkan, ia mengaku bahwa Thales adalah guru yang dihormatinya. Keduanya pun digolongkan ke dalam kelompok ilmuwan Miletos. Miletos sendiri sebenarnya adalah nama sebuah kota di kawasan Asia Kecil (sekarang terletak di wilayah Turki bagian Asia) yang menjadi tempat kelahiran Anaximander, Thales, dan para filsuf kondang lainnya.

Anaximander Perintis Pemikiran Alam Semesta

Milenos sangat dikenal dalam riwayat sejarah filsafat Eropa karena para pemikir yang berasal dari kawasan ini, termasuk Anaximander, merupakan para perintis sekaligus pionir dalam proses berfilsafat yang pada akhirnya berkembang pesat dan mewariskan pengaruh besar dalam sejarah peradaban manusia dan dunia pada umumnya.

Nama Anaximander terangkat justru karena mengkritisi prinsip gurunya. Thales meyakini bahwa air adalah pusat dari segala sesuatu. Anaximander bertanya, jika air merupakan prinsip dasar segala sesuatu maka seharusnya tidak ada lagi zat yang berlawanan dengannya, dan pada faktanya ada, yakni api.

Anaximander berkeyakinan bahwa pusat dari segala sesuatu itu adalah zat yang tidak mampu dijangkau panca indra. Ia mengajukan top apeiron (zat yang tak terbatas) sebagai pusat dari segala sesuatu karena bersifat ilahiah, abstrak, tak tersentuh, kekal, dan mencakup segalanya.

Dari to apeiron inilah berasal unsur-unsur yang saling berlawanan, seperti terang-gelap, panas-dingin, dan seterusnya. Unsur-unsur yang berlawanan ini pada akhirnya akan kembali pada zat yang tak terbatas, yaitu to apeiron.

Berbekal pemikiran tentang to apeiron inilah Anaximander merumuskan tentang alam semesta. Menurutnya, terciptanya bumi berasal dari pertarungan unsur-unsur berlawanan yang kemudian membeku. Pada mulanya, kata Anaximander, bumi dibalut oleh udara yang basah, dan karena berputar tanpa henti, maka lambat-laun bumi menjadi kering.

Sedangkan udara yang basah itu oleh Anaximander dijelaskan berubah menjadi lautan yang juga ada di dalam bumi. Anaximander juga mengatakan bahwa bumi yang berbentuk silinder memiliki lebar 3 kali lipat lebih besar dari tingginya. Alasan mengapa bumi alam semesta yang memiliki jarak yang sama dengan benda-benda lain yang ada di jagat raya.

Pemikiran Anaximander yang berani ini bukanlah hal yang mengherankan karena ia merupakan salah seorang filsuf pertama pada awal Zaman Aksial, era di mana pemikiran revolusioner banyak bermunculan. Anaximander adalah pendukung ilmu pengetahuan. Setiap hari ia berpikir, mengamati, dan kemudian menjelaskan aspek-aspek perbedaan dari alam semesta.

Ia percaya bahwa alam semesta diatur oleh semacam hukum, seperti yang berlaku dalam kehidupan manusia. Anaximander juga sangat meyakini bahwa segala sesuatu yang mengganggu keseimbangan alam semesta tidak akan kekal alias tidak akan bertahan lama.

Anaximander adalah pemikir awal alam semesta beserta seluruh isinya. Misalnya, ia punya pemikiran tentang asal-usul kehidupan satwa, di mana Anaximander yakin bahwa hewan-hewan di alam semesta ini muncul dari laut, misalnya makhluk air seperti ikan.

Panas yang menyelimuti bumi menyebabkan keringnya air laut dan berubah menjadi daratan. Dari situlah mulai bermunculan makhluk hidup yang naik ke daratan dan beranak-pinak. Oleh sebab itu, Anaximander sangat yakin bahwa bukanlah manusia yang menjadi makluk pertama yang hidup didarat. Makhluk hidup pertama yang naik ke darat adalah makhluk air yang beradaptasi di darah dan kemudian berevolusi menjadi manusia.

Pemikiran Anaximander banyak memengaruhi perkembangan ilmu astronomi dan cabang ilmu lainnya. Dalam konteks ini, Anaximander mencoba untuk menjelaskan mekanika benda labgit dalam hubungannya dengan bumi. Selain itu, Anaximander konon adalah orang pertama yang merumuskan peta dunia dan memberikan kontribusi besar terhadap perkembangan ilmu geografi.

Anaximander juga berhasil membuat jam matahari dengan menggunakan tongkat tegak lurus di permukaan bumi, dan bayangan yang terpantul dari tongkat itu dijadikan sebagai petunjuk waktu. Anaximander diperkirakan mangkat pada 546 SM, kisaran waktu yang sama dengan perkiraan wafatnya Thales.
KLIK DISINI UNTUK KOMENTAR Disqus