Sapriadi, Guru SD Semata Wayang Di Pedalaman Sulawesi Selatan - Welcome To Mas Ifan Blog

Sapriadi, Guru SD Semata Wayang Di Pedalaman Sulawesi Selatan

Meski di awalnya Sapriadi sering kesulitan dan kebingungan lantaran jumlah muridnya yang hanya sedikit sampai pada akhirnya Sapriadi berupa...

Meski di awalnya Sapriadi sering kesulitan dan kebingungan lantaran jumlah muridnya yang hanya sedikit sampai pada akhirnya Sapriadi berupaya dengan cara semua murid di kumpulkan dalam satu ruangan, kemudian papan tulis diberi garis pembatas, supaya para murid tau mana pelajaran yang diberikan untuk kelas satu, dua ataupun tiga.

Mas Ifan benar-benar salut dengan guru semata wayang yang mengajar di Kelas Jauh SDN 044 Tondo Pata, Desa Riso, Tapango, Polman, Sulawesi Barat (Sulbar) itu. Bagaimana tidak salut pasalnya Sapriadi hanya mengajar sekolah itu seorang diri.

Sapriadi Bersama Dengan Para Muridnya ( Sumber Gambar @abdy/detikcom )

Sapriadi sudah mengabdikan dirinya untuk menjadi tenaga pengajar di sekolah pedalaman itu sejak tahun 2008. Bahkan sejak beberapa tahun terakhir, Sapriadi juga harus mengajar semua tingkatan kelas dalam waktu yang nyaris bersamaan.

Yang buat Mas Ifan benar-benar salut dengan Sapriadi adalah meski dirinya berstatus sebagai guru tidak tetap dan hanya mempunyai upah tidak lebih dari Rp. 17.000,- per harinya, tidak lantas membuat semangat dirinya untuk mengajar surut di sekolah kelas jauh ini.

Bahkan berdasarkan dari penuturan Sapriadi yang Mas Ifan kutip dari detik.com, Sapradi menyebutkan bahwa ia selalu berusaha untuk datang lebih awal, karena kasian para murid jika sudah datang dan tidak ada guru di sekolah mereka akan langsung pulang lagi ke rumah masing-masing.

Kecintaan Sapriadi kepada anak-anak dan mimpi besarnya supaya mereka bisa mendapatkan pendidikan yang layak, merupakan pelacut semangat guru dengan gelar sarjana pendidikan ini, sampai dirinya pun rela menukarkan masa mudanya untuk menjadi pengajar di sekolah kelas jauh ini.

Pria kelahiran 20 November 1989 ini kerap merasa sedih saat melihat anak-anak yang tidak bersekolah, terlebih lagi karena alasan tidak ada guru, maka dari itu Sapriadi rela untuk bertahan dan menjadi tenaga pengajar di sekolah ini, meskipun diri hanya seorang diri.

Menjadi guru tunggal di sekolah bukan sebuah yang mudah dan tentunya ini mempunyai tantangan, selain harus menguasai semua mata pelajaran, Sapriadi juga mengaku dirinya harus siap mengabadikan kepentingan masa depan demi pendidikan para murid di sekolahnya.

"Yang paling berat jika ada urusan pribadi, tidak ada teman yang bisa saya minati tolong untuk menggantikan saya mengajar, jadi sebisa mungkin saya tetap selalu hadir di sekolah, asalkan para murid tidak kecewa." tutur Sapriadi

Sapriadi bercerita jika awalnya di sekolah jauh ini ada guru lain dengan status pegawai negeri sipil. Akan tetapi belum genap satu bulan guru itu mengajar sudah meminta untuk dipindahkan ke sekolah lain.

"Sepertinya dia tidak sanggup untuk mengajar di sini, selain jaraknya yang cukup jauh dari pusat desa, dusun ini juga cukup terpencil dari akses jalan yang masih jauh dari kata bagus," tutur Sapriadi.

Sumber Artikel
KLIK DISINI UNTUK KOMENTAR Disqus