Breaking

Sunday, February 25, 2018

Abdul Muis Pahlawan Pergerakan Nasional

Abdul Muis Pahlawan Pergerakan Nasional

"Hatinya Berontak Ketika Melihat Penderitaan Bangsanya Akibat Dijajah Belanda. Sebagai Seorang Nasionalis Sejati Abdul Muis Muda Tak Rela Melihat Penindasan Terjadi Di Negerinya."

Dilahirkan di Sungai Puar, Sumatera Barat, pada tanggal 3 Juli 1883. Ia dikenal sebagai sastrawan juga pejuang. Buah karyanya yang amat terkenal adalah Salah Asuhan dan Surapati. Masa kanak-kanaknya dihabiskan untuk menuntut ilmu. 

Beliau pernah mengenyam pendidikan di Sekolah Dokter Bumiputera (STOVIA) namun tidak diselesaikannya karena ia lebih menyukai bidang jurnalistik.

Abdul Muis Pahlawan Pergerakan Nasional ( Sumber Gambar @Source )

PAHLAWAN PERGERAKAN NASIONAL ABDUL MUIS

Lahir : Di Sungai Puar (Sumatera Barat), 3 Juli 1883.
Wafat : Di Bandung, 17 Juni 1959.

Karena cinta kepada bangsanya ia rela menjadi pegawai negeri namun profesinya sebagai wartawan tetap tidak ditinggalkan. Ia aktif menulis di harian De Express, surat kabar Preanger Bode Bandung, harian De Expres, harian Kaoem Moeda dan juga Neraca

Hatinya berontak ketika melihat penderitaan bangsanya akibat dijajah Belanda. Sebagai seorang nasionalis sejati Abdul Muis muda tak rela melihat penindasan terjadi di negerinya.

Ia mencari cara yang paling baik untuk menghadapi penjajah. Ia segera bergabung dengan organisasi Sarekat Islam yang dikenal anti kolonial. Karena reputasinya yang baik ia diangkat menjadi anggota pengurus besar.

Suatu ketika Ia pernah mengajak memboikot perayaan seratus tahun terbebasnya Belandar dari penjajahan Perancis. Akibatnya, ia harus berhadapan dengan mahkamah pengadilan.

Karena cinta yang besar pada tanah airnya. Pada setiap kesempatan, ia selalu membela kepentingan negerinya. Ia pernah dikirim ke negeri Belanda pada tahun 1917 atas nama Komite Ketahanan Hindia Belanda pada tahun 1917 ( Indie Weerbaar ), kesempatan itu dimanfaatkan untuk mempengaruhi tokoh-tokoh politik Belanda guna mendirikan Sekolah Teknologi Tinggi di Indonesia.

Berkat kegigihannya ia dan kawan-kawannya berhasil mendirikan sekolah yang sekarang lebih dikenal dengan nama Institut Teknologi Bandung (ITB).

Dalam lembaga Volkstraad (Dewan Rakyat) bersama Haji Umar Said Cokroaminoto pada tanggal 25 November 1918 ia pernah mengajukan mosi terhadap pemerintah Kolonial Belanda.

Mereka menuntut agar pemerintah Kolonial Belanda membentuk parlemen yang anggotanya dipilih sendiri oleh rakyat Indonesia.

Pada tahun 1922 Ia juga pernah memimpin demo mogok masal para buruh di Yogyakarta. Hal ini membuat marah pemerintah Kolonial Belanda. Ia ditangkap dan diasingkan ke Garut Jawa Barat.

Ditempat pengasingan semangat juangnya tak pernah padam. Di Garut ia mendirikan Persatuan Perjuangan Priangan. Di manapun ia berada semangatnya terus membara guna membela tanah air tercinta.

Abdul Muis yang dikenal sebagai sastrawan dan pejuang ini sempat menikmati zaman kemerdekaan. Beliau wafat dan dimakamkan di Bandung pada tanggal 17 Juni 1959. Pada tahun itu pula Pemerintah Indonesia mengangkatnya sebagai Pahlawan Pergerakan Nasional.


Disclaimer: Images, articles or videos that exist on the web sometimes come from various sources of other media. Copyright is fully owned by the source. If there is a problem with this matter, you can contact